<>

Rabu, 12 Maret 2014

Prelude pada Musik Klasik

 

Prelude

 

Prelude adalah bagian pembuka suatu karya musik klasik. Terminologi ini populer dalam kehidupan musik abad ke-17, sebagai pembuka kumpulan jenis-jenis tarian tradisional di Eropa. Pada musik populer saat ini musik umumnya didahului oleh introduksi dan diakhiri oleh bagian akhir yang disebut Coda yang secara literal berartio ekor. Walaupun termasuk genre kuno, hingga saat ini beberapa komposer juga menggunakan istilah tersebut yang walaupun dengan maksud yang berbeda, namun pengertian dasarnya sama yaitu pembuka. Setelah membahas musik klasik dalam 14 bab, buku ini ditutup dengan Coda yang memuat tentang musik klasik di Indonesia

 

Jenis-jenis musik yang ada di seluruh dunia dapat dikelompokkan dengan berbagai cara misalnya berdasarkan kemiripan ciri-ciri umumnya (genre), fungsinya, maupun geografi. Secara geografi musik dapat dibagi menjadi musik Barat yang mengacu kepada negara-negara Eropa, dan musik Timur di wilayah Asia dan Timur Tengah yang memiliki varian yang sangat banyak.

 

Dari berbagai kemungkinan pengelompokan yang ada tampaknya secara umum musik yang ada di dunia dapat dikelompokkan kepada tiga jenis yaitu musik tradisi, musik hiburan, dan musik serius yang umumnya disebut orang sebagai musik klasik. Kreativitas pertunjukan dan penciptaan musik tradisi dibatasi oleh norma-norma yang berlaku pada suatu kebudayaan sehingga memiliki ciri lokal yang amat kental. Di Indonesia musik-musik tradisi dapat dikenali berdasarkan batasan geografis dan etnisitasnya, misalnya musik Minang, musik Batak, musik Dayak, dan musik Jawa. Di Jawa dan Bali ada istilah khusus untuk menyebut musik tradisi, yaitu yang dikenal dengan istilah karawitan. Sekarang ada istilah untuk menyebut seluruh musik yang terdapat di seluruh wilayah kepuluan Indonesia, termasuk karawitan, yaitu musik Nusantara.

 

Musik hiburan adalah musik yang paling populer di kalangan masyarakat modern saat ini. Secara umum kreativitas musik hiburan dibatasi oleh selera masyarakat. Dari segi ekonomi musik hiburan merupakan salah satu bentuk industri. Keberhasilan pertunjukan musik hiburan ditentukan oleh promosi penjualannya. Guna mencapai sukses para manajer musik hiburan perlu memahami selera pasar yang sedang berlaku. Karakteristik musik hiburan mengacu kepada sistem diatonik yang berasal dari Barat sementara ciri-ciri lokal umumnya didominasi oleh aspek bahasa. Walaupun demikian pada lingkungan masyarakat tradisional juga terdapat musik hiburan yang mengacu kepada idiom-idiom musik tradisi.

 

Pada umumnya musik hiburan didominasi oleh musik vokal dan sedikit di antaranya dari jenis musik instrumental. Di antara beberapa jenis musik hiburan ada juga yang memperhatikan aspek-aspek kreativitas yang tinggi dan tidak tergantung dari musik vokal serta tidak sepenuhnya mengikuti selera masyarakat. Di antara musik hiburan tersebut dari jenis tersebut ialah musik jazz yang mengutamakan aspek kreativitas dalam bentuk permainan improvisasi bagi seluruh pemain instrumennya termasuk penyanyinya. Walaupun demikian kebebasan mereka tetap berada dalam rambu-rambu tonalitas yang berlaku dalam musik diatonik.

 

Berbeda dengan musik tradisi dan musik hiburan, kreativitas musik klasik pada masyarakat modern sama sekali tidak dibatasi baik oleh tradisi maupun oleh kecenderungan yang berkembang di masyarakat. Dengan kata lain musik serius memiliki kebebasan artistik yang jauh lebih luas dibandingkan dengan musik hiburan. Namun sebaliknya, di samping kreativitas yang berkembang secara bebas, dalam beberapa kasus musik klasik justru memanfaatkan idiom-idiom berbagai musik-musik populer, musik rakyat, bahkan tradisi berbagai kebudayaan guna memperkaya karya-karyanya.

 

Kebebasan artistik dalam serius bukan berarti tidak memilki aturan melainkan didasarkan atas berbagai pertimbangan konsep-konsep teoretik yang juga senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Hal tersebut yang menyebabkan musik klasik senantiasa selalu berubah selama berabad-abad. Sejak era Abad Pertengahan hingga saat ini varian musik klasik sangat luas dan senantiasa berkembang. Perkembangan musik klasik mulai dari penerapan sistem diatonis yang sederhana pada abad pertengahan hingga mencapai kompleksitasnya di akhir era Romantik. Bahkan sejak memasuki abad ke-20, sementara model sitem tonalitas diatonik yang merupakan warisan era Klasik abad ke-18 dan eksplorasi sistem tersebut sebagai warisan era Romantik era abad ke-19 hingga kini masih tetap diterapkan pada musik hiburan populer dan jazz, musik klasik telah meninggalkan sistem tersebut dan terus mengembangkan kreativitas dan inovasinya yang paling mutakhir.

 

Banyak orang mengira kalau musik klasik senantiasa menggunakan media akustik. Aliran komposisi musik elektronik dalam musik klasik telah dimulai lama sebelum ditemukannya synthesizer, dengan tape loops dan alat musik elektronik analog di tahun 1950-an dan 1960-an. Para komposer bahkan tidak mengandalkan perkembangan teknologi melainkan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kreativitas mereka. Para pelopor aliran musik elektronik tersebut antara lain John Cage, Pierre Schaeffer, dan Karlheinz Stockhausen. Beberapa komposer musik elektronik masa kini yang telah memberikan kontribusinya untuk pengembangan musik klasik aliran kontemporer ialah Ton de Leuw dari Belanda dan Jack Body dari New Zealand. Saat ini Indonesia sendiri memiliki beberapa komposer yang menaruh perhatian terhadap musik elektronik, di antaranya ialah Otto Shidarta dari Jakarta, dan Slamet Raharjo dari Yogyakarta.

 

Istilah musik klasik umumnya lebih dikenal luas sebagai musik serius. Walaupun demikian secara khusus dalam diskusi etnomusikologi, istilah musik klasik tidak hanya merujuk pada musik klasik Eropa saja, melainkan juga pada musik-musik di Asia dan Timur seperti misalnya musik klasik Persia, India, Tiongkok, dan lain-lain. Dalam lingkup musikologi, penggunaan kata 'klasik' bisa mengandung tiga makna. Yang pertama ialah berarti Musik Kuno, yaitu musik yang berkembang pada era Yunani Kuno (masa Antiquity). Pengertian yang kedua ialah musik pada era Klasik, yang didominasi oleh gaya Wina pada abad ke-18 dengan tiga tokoh komposer yang terkenal yaitu Haydn, Mozart, dan Beethoven. Ketiga, kata 'klasik' yang diterapkan pada musik klasik pada saat ini ialah sebagai musik seni (art music); yang pengertiannya berbeda dengan istilah seni musik atau musical arts. Yang dimaksud klasik dalam konteks ini ialah lawan dari musik hiburan. Secara khusus, di Indonesia ada istilah lagu seriosa untuk menamai musik vokal yang intinya mirip dengan musik klasik pada umumnya. Musik dalam pengertian yang terakhir inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam buku ini.

 

Pokok bahasan musik klasik sangat luas karena tidak melulu membicarakan fenomena musikal yang terjadi di sekitar saat ini tapi juga yang terjadi selama berabad-abad. Dengan demikian berbeda dengan musik non klasik yang didasarkan atas fenomena musikal yang terjadi saat ini atau masa kontemporer, dan tidak jauh dari sekitar abad ke-20. Tidaklah mengherankan jika secara kuantitatif musik klasik tidak hanya memiliki repertoar yang sangat luas namun juga literatur yang juga luas. Keluasan cakupan pembahasan musik klasik yang menyangkut waktu berabad-abad memungkinkannya untuk dilakukan pembahasan dengan pendektan sejarah, baik secara diakronis melalui pendekatan kronologis, yaitu dari tahun ke tahun secara bertahap, maupun secara sinkronis, yaitu mengkaitkannya dengan aspek-aspek terkait di sekitar periode yang dibahas.

 

Guna memudahkan pemahaman terhadap musik klasik maka seseorang perlu memahami aspek-aspek sejarah musik klasik yang meliputi pengertian-pengertian dasar mengenai musik secara umum. Walaupun jarang diterapkan pada buku-buku pengantar tentang pengetahuan musik, proses kelahiran sistem tonal berikut pengembangannya selama berad-abad hingga akhirnya digantikan oleh sistem musikal yang lain, juga perlu diketahui.

 

Buku ini tidak secara khusus membahas sejarah musik klasik sehubungan dengan itu hanya dibahas secara singkat sebagai latar belakang dalam memahami musik klasik secara lebih mendalam. Sehubungan dengan itu di samping membicarakan proses kelahiran dan perkembangan sisten tonal, kronologi sejarah dan riwayat hidup beberapa komponis musik klasik dibahs secara singkat. Termasuk ke dalam pembahasan material musik ialah dasar-dasar teori musik yang meliputi pemahaman berbagai aspek musikal. Landasan teori musik ini diarahkan untuk memahami bentuk-bentuk musik, mulai dari unit-unit sub struktur hingga bentuk-bentuk standar.

 

Hingga kini orkestra diyakini sebagai suatu formasi standar dalam bisnis musik klasik. Sehubungan dengan itu pengetahuan umum tentang orkestra seperti hal-hal yang berkaitan dengan klasifikasi instrumen, perlu diketahui. Walaupun orkestra termasuk ke dalam hal penting yang perlu diketahui, namun dalam kenyataannya formasi yang berkembang di masyarakat justru adalah instrumen-instrumen solo dan vokal. Sehubungan dengan itu pokok bahasn musik instrumental dan vokal juga dibahas dalam buku ini. Sebagai penutup, buku ini membahas keberadaan musik klasik di Indonesia.

 

 

Musik Klasik

 

Posisi Pemain Saxophone

Posisi Pemain Saxophone

Posisi instrumen dan tubuh pada waktu bermain merupakan langkah awal yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi siswa pemula. Hal ini sangat penting teknik pernapasan dan keleluasaan gerak tangan maupun jari.

Sikap bermain saxophone sebaiknya jangan terlalu tegang (tegap), dan sebaliknya jangan terlalu santai. Ambillah sikap yang wajar, baik dalam sikap berdiri maupun dalam sikap duduk.

1. Posisi Berdiri

Posisi berdiri seperti dalam gambar 25 dibawah ini selain terlalu kaku juga menghambat pernapasan serta menghambat keleluasaan gerak jari-jari kita.

Gambar 25: Sikap yang tidak dianjurkan

Sedangkan posisi berdiri yang dianjurkan adalah:

Berdiri wajar, kepala agak menunduk dengan pandangan mata lurus kedepan. Adapun posisi saxophone agak sedikit dimiringkan ke kiri dengan menempelkan bagian bawah dari saxophone pada pinggul sebelah kanan. Hal ini sangat membantu keleluasaan gerak jari-jari dan menjaga supaya saxophone tidak banyak bergerak pada waktu dimainkan.

Gambar 26: Sikap Berdiri

Dalam halaman berikut ini ditunjukkan gambar posisi leher yang tidak baik. Posisi seperti ini selain kurang sedap untuk dipandang juga dapat mengganggu pernapasan serta berpengaruh pada intonasi dari nada-nada yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena cara pemasangan antara mouthpiece dan leher saxophone yang kurang tepat.

Gambar 27: Posisi Leher yang tidak baik

Untuk menjaga supaya posisi leher pemain tidak seperti dalam gambar diatas, posisi mouthpiece pada leher saxophone harus digeser (diputar) sedikit ke kanan disesuaikan dengan kemiringan saxophone.

Untuk menggeser posisi mouthpiece supaya leher pemain bisa tegak adalah sebagai berikut:

Ambillah sikap berdiri seperti dalam gambar nomor 26, sementara tangan kiri memegang mouthpiece yang kurang tepat posisinya dan putarlah ke kanan hingga posisi leher pemain tidak miring. Gambar berikut ini akan ditunjukkan bagaiman cara memutar mouthpiece.

Gambar 28: Cara menggeser Posisi Mouthpiece


2. Posisi Duduk

Pada posisi duduk tidak banyak berbeda dengan posisi berdiri. Perbedaan hanya pada posisi tubuh saja, sedangkan untuk posisi instrumen sama seperti pada posisi berdiri.

Dalam posisi duduk sebaiknya kita menggunakan kursi yang tidak memakai sandaran tangan, sebab sandaran tersebut akan mengganggu tangan dan saxophone pemain itu sendiri. Apabila terpaksa menggunakan kursi yang memakai sandaran tangan, dapat kita atasi dengan cara duduk miring ke kiri dari arah kursi kira-kira 45° dengan bertumpu pada pantat dan paha sebelah kiri. Gambar 29 ditunjukkan posisi duduk pada kursi yang memakai sandaran tangan.

Gambar 29: Posisi Duduk dengan sandaran tangan


Gambar 30: Posisi Duduk tanpa sandaran tangan


Senin, 17 Februari 2014

Kepustakaan buku Seni Musik Klasik untuk SMK

 

Kepustakaan buku Seni Musik Klasik untuk SMK

 

Adler, Samuel. The Study of Orchestration. W. W. Norton & Company, 3rd edition, 2002. ISBN 0-393-97572-X

Amer, Christine. 1972. Harper's Dictionary of Music. London: Barnes & Noble Book.

Annoni, Maria Theresa. 1989. Tuing, Temperament and Pedagogy of the Vihuela in Juan Bermudo's "Declaracion de Instrumntos Musicales (1555). Ph.D. The Ohio State University.

Anonim."Journal of the International Double Reed Society" (annual since about 1972), I.D.R.S. Publications

Anonim.1989.Ensiklopedi Anak Nasional Vol.1ª.Jakarta:PT Cipta Adi Pustaka.

Anonim.2006."Cinta, Musik, dan Kesehatan".Kompas tgl 19 Desember 2006.

Apel, Willi. 1978. Harvard Dictionary of Music. Cambridge: Harvard University Press.

Baines, Anthony (ed.), 1961,Musical Instruments Through the Ages, Penguin Books,

Behrend, Siegfried (transkriptor). 1974. Johann Sebastian Bach: Präludium mit Fuge und Allegro D-Dur. Frankfurt am Main: Edition Wilhelm Hansen.

Classic Guitar Repertory Grade 5, 4, 3. Vol. 1. Japan: Yamaha Music Foundation (16-460)

Del Mar, Norman. Anatomy of the Orchestra. University of California Press, 1984. ISBN 0-520-05062-2

Duarte, John and Poulton, Diana (transk.). 1974. Robert Dowland: Varietie of Lute Lesson (1610), Voll V-Galliard. Italy: Bérben Edizioni Musical.

Ferrell, Robert G. 1997."Percussion in Medieval and Renaissance Dance Music: Theory and Performance".. Retrieved February 22, 2006.

Grier, James. 1996. The Critical Editing of Music: Theory, Method, and Practice. Cambridge: Cambridge University Press.

Harder, Thomas Lee. 1992. The Vihuella Fantasias from Migulde Fuenllana's "Orphénica Lyra": Introduction and guitar transription of nine representative works. U.S.A.: U.M.I. D.M.A. diss. Arizona States University.

Hunt, Edgar (piano transk.). 1956. Robert Dowland: Varietie of Lute Lesson (1610). London: Schott & Co. Ltd.

Indrawan, Andre (ed.). 1991. Modul Silabus dan Bahan Ujian Mata Kuliah Mata Kuliah Praktek Gitar Tahun Akademik 1992/1993. Yogyakarta: Jurusan Musik, FK ISI Yogyakarta.

Indrawan, Andre. 1995. Galliard 2: The most sacred Queene Elizabeth, Her Galliard. Yogyakarta: Transkripsi cetakan sendiri.

Indrawan, Andre. 1995. Resital Andre Indrawan. Jakarta: Gedung Kesenian Jakarta (buklet resital).

Indrawan, Andre. 1998. Upaya Peningkatan Kualitas Studi Gitar pada Jenjang Studi D3 dan S1 melalui Tugas Akhir Resital. Yogyakarta: Lembaga Penelitian (LPM) ISI Yogyakarta

Indrawan, Andre. 1999. Aria detta la Frescobalda. Darwin: Transkripsi cetakan sendiri.

Indrawan, Andre. 2003. Johann Sebastian Bach: Prelude, Fugue and Allegro. Melbourne: Transkripsi cetakan sendiri

Indrawan, Andre. 2004. "Peranan Seni Transkripsi Gitar Klasik Dalam Pengembangan Studi Gitar Pada Pendidikan Tinggi Musik Indonesia." Laporan penelitian intern. Yogyakarta: Lembaga Penelitian ISI Yogyakarta.

Jamalus.1988.Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik.Jakarta: Depdikbud Ditjen Dikti.Proyek Pengembangan LPTK.

Jansen, Will, 1978.The Bassoon: Its History, Construction, Makers, Players, and Music, Uitgeverij F. Knuf,. 5 Volumes

Johnson, Rebecca Tate. 1981. Analysis, Guitar Transcripsion and Performance Practices of the Twelve Songs from Miguelde Fuenllana's "Ophenica Lyra" derived from "Polyphonic Villancicos" by Juan Vasquez. D.M.A., Musicology, University of Southern Mississippi.

Kodiyat, Latifah. 2006 Marzuki: Wolfgang Amadeus Mozart komponis cilik dari Salzburg. Djambatan, Jakarta, ISBN 979-428-629-X

Kohlhase, Thomas. 1976. Neue Ausgabe Sämtlicher Werk; Herausgeben vom Johann-Sebastian-Bach-Institut Göttingen und vom Bach-Archiv Leipzig, seri kelima jilid kesepuluh kumpulan Klavier- und Lautenwrke. London: Bärenreiter 2204

Kopp, James B., 1999. "The Emergence of the Late Baroque Bassoon", in The Double Reed, Vol. 22 No. 4.

Lange, H.J. and Thomson, J.M., "The Baroque Bassoon", Early Music, July 1979.

Langwill, Lyndesay G., The Bassoon and Contrabassoon, W. W. Norton & Co., 1965

Matthews, Max Made. 2001. Music: An Illustrated History. London: Annes Publishing Limited.

McNeill, Rhoderik. 1998. Sejarah Musik 1. Jakarta: BPK Gunung Mulia

Merriam, Allan P. 1964.The Anthropology of Music. Indian: IU Press.

Montagu, Jeremy. 2002. Timpany & Percussion. Yale University Press, ISBN 0-300-09337-3

Muttaqin, Moh., 2003."Musik Dangdut:Sebuah Kajian Musikolgis" Tesis S2 untuk memperoleh gelar Magister Humaniora. Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada,tidak dipublikasikan.

Otai, T. 1985. 170 Famous Guitar Collections Grade C. Japan: Doremi Music Pub. Co., Ltd.

Ottman, Robert W.1961.Advanced Harmony, Theory and Practice.N.J:Prentice-Hall,Inc.

Peters, Mitchell. 1993. Fundamental Method for Timpani. Alfred Publishing Co., ISBN 0-7390-2051-X

Piano Sonatas K 533, 545, 570, 576 MP3 Creative Commons Recording

Pidoux. Pierre. 1948. Girolamo Frescobalsi: Organ and Keyboard Works ( the second book of Toccatas, Canzoni etc, 1637) Jilid IV. London: Bärenreiter 2204

Popkin, Mark and Glickman, Loren, 2007 .Bassoon Reed Making, Charles Double Reed Co. Publication, 3rd ed.,

Prier S.J., Karl Edmun.1996.Ilmu Bentuk Musik.Yogyakarta:Pusat Musik Liturgi.

Prihatini, Rina Murwani.2003."Analisis Lagu Seriosa Pantai Sepi Karya Liberty Manik", Skripsi,tidak dipublikasikan.Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Retro, Dejavu. 2001. Andrés Segovia. EEC: Dejavu Retro Gold Collection-Recording Arts SA (rekaman kompilasi)

Sadie, Stanley, ed., The New Grove Dictionary of Musical Instruments, s.v. "Bassoon", 2001

Scheit, Karl (transk.) 1982. Francesco da Milano (1497-1543): Ricercare und Fantasien. Wien: Universal Edition

Schmidt III, Henry Louis. 1969. The First Printd Lute Books: Francesco Spiracino's "Intabulatura de Lauto, Libro primo & Libro secondo (Venice: Petrucci, 1507)". Ph.D. the University of California at Chapel Hill.

Segovia, Andrés (kompilasi penerbit). 1987. Masters of the Guitar Andrés Segovia (1893-1987). England: Schott.

Semangun, Haryono. 1992. Filsafat, Filsafat Pengetahuan, dan Kegiatan Ilmiah. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana UGM

Silsen, Myrna. 1973. Renaissance Lute Music for the Guitar; An Anthology of Constant Delight. New York: Robins Music Corporation.

Spencer, William (rev. Mueller, Frederick). 1958.The Art of Bassoon Playing, Summy-Birchard Inc.,

Staton, Barbara,dkk.1991.Music and You. Macmillan Publishing Company 866 Third Avenue New York,N.Y.10022 ISBN:0-02295005-2.

Stauffer, George B. (1986). "The Modern Orchestra: A Creation of the Late Eighteenth Century". In Joan Peyser (Ed.) The Orchestra: Origins and Transformations pp. 41-72. Charles Scribner's Sons.

Teuchert, Heinz (transkriptor). 1978. Johann Sebastian Bach: Präludium, Fuge und Allegro BWV 998. München: G. Ricordi & Co.

Thomas, Dwight. Timpani: Frequently Asked Questions. Retrieved February 4, 2005.

Tyler, James. 1992. The Solo Lute Music of John Dowland. Ph.D. Berkeley: University of California.

Ward, John Milton.1953. The Vihuela de Mano and its Music (15361576). Ph.D. New York University.

Weaver, Robert L. 1986. "The Consolidation of the Main Elements of the Orchestra: 1470-1768". In Joan Peyser (Ed.) The Orchestra: Origins and Transformations pp. 7-40. Charles Scribner's Sons.

 

 

Sumber internet:

 

"Credits: Beatles for Sale". All Music Guide. Retrieved February 18, 2005.

"Early Timpani in Europe". The Vienna Symphonic Library. Retrieved February 4, 2005.

"Timpani ins and outs". Adams Musical Instruments. Retrieved February 4, 2005.

"Historical DCI Scores". 2005. The Sound Machine Drum Corps Scores Archive. Retrieved February 17, 2005.

"Timpani General Information". 2005.American Drum Manufacturing Co. Retrieved February 6,.

"Kettledrum". 1911 Encyclopedia Britannica as retrieved from [1] on February 26, 2006.

"Literature of and about Mozart in The European Library Online Objects only

"Musik" dalam Wikipedia, Ensiklopedi Bebas Berbahasa Indonesia" (http://id. wikipedia.org/wiki/Musik), di-download tahun 2007

"The Double Reed" (currently three issues per year), I.D.R.S. Publications (see www.idrs.org)

Zoutendijk, Marc. Letters to Flamurai. February 8, 2005.

"Schnellar Timpani". Malletshop.com. Retrieved February 10, 2005.

"Biography". About Jonathan Haas. Retrieved February 17, 2005.

"Recordings". About Jonathan Haas. Retrieved May 21, 2006.

"Credits: A Love Supreme". All Music Guide. Retrieved February 18, 2005.

"Credits: Tubular Bells". All Music Guide. Retrieved February 18, 2005.

"William Kraft Biography". Composer John Beal. Retrieved May 21, 2006.

 

 

Musik Klasik

Caleg Pilihan Radar Banten

Caleg Waringinkurung Serang

Caleg Kramatwatu Serang

Caleg Bojonegara Serang

Caleg Pulo Ampel Serang

Caleg Gunungsari Serang

DPRD Kabupaten Serang

DPRD Serang

DPRD Serang Banten

Jual murah Domain

Domain Cantik dan mudah diingat

Rabu, 20 November 2013

Latihan Vibrasi pada Saxophone

 

Latihan Vibrasi pada Saxophone


Vibrasi adalah kualitas getaran dalam nada yang dihasilkan oleh gerakan yang sangat rapat dari rahang bawah. Para saksoponis menggunakan vibrasi (khususnya dalam musik tarian) pada nada panjang. Pada tempo yang sangat lambat sampai sedang harus dicoba menggunakan vibrasi pada nada-nada seperempatan dan teristimewa pada bada setengah atau nada utuh. Apabila tanpa vibrasi nada saxophone memiliki warna yang kurang cemerlang bila dibanding dengan penggunaan vibrasi tersebut.


Ada 3 jenis gelombang vibrasi yaitu:


a. Gelombang lebar :


b. Gelombang sempit :


c. Gelombang dari lebar menyempit :

 

 

Gambar 46: 3 jenis gelombang vibrasi

 


Berikut latihan Vibrasi :

 

Notasi 7 : cara latihan vibrasi

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Teknik Penjarian (Fingering) pada Saxophone

 

Teknik Penjarian (Fingering) pada Saxophone


Sistem penjarian pada alat musik saxophone untuk petunjuk penggunaan kunci-kunci nada dan jari akan diberi tanda-tanda, huruf, titik ( · ) dan lingkaran kecil ( ° ). Tanda huruf dan angka menunjukkan kuncikunci nada yang digunakan atau digerakkan.

Tanda titik ( · ), menunjukkan katup nada yang ditekan atau ditutup. Tanda lingkaran kecil ( ° ) menunjukkan katup nada yang tidak ditekankan atau dibuka.


Di bawah ini akan ditunjukkan huruf-huruf dan angka-angka yang akan dipergunakan sebagai petunjuk kunci-kunci dan jari-jari.

 

Gambar 35: gambar perwujudan tanda penjarian).

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Teknik Ambosur (Embouchure) pada Saxophone

 

Teknik Ambosur (Embouchure) pada Saxophone


Kata ambosur berasal dari bahasa Perancis "embouchure". Sedangkan dalam istilah Inggris memiliki arti ganda, yaitu mouthpice dan bibir. Adapun pengertian umum dapat diartikan sebagai bibir. Untuk istilah musik (dalam permainan alat musik tiup), ambosur adalah posisi bibir dan gigi pada mouthpiece. Bentuk ambosur yang baik adalah sebagai berikut: Letakkan gigi atas pada bagian atas dari mouthpiece; Lekatkan bagian dalam dari bibir di sekililing mouthpiece, sekaligus memajukan rahang bawah seperti sikap dalam menggigit (gigi bawah sejajar dengan gigi atas).

 

Gambar 31: Perwujudan Ambosur yang baik


Ada dua macam jenis tiupan dalam alat musik tiup yaitu:
a. Meniup dengan udara dingin
b. Meniup dengan udara panas


Udara dingin dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti: piccolo, fluit sopran, hobo dan klarinet dari nada "A" keatas.

 

Notasi 6: Nada-nada pada Klarinet yang menggunakan udara dingin


Udara panas dipergunakan untuk meniup alat musik tiup seperti: klarinet dari nada "Ab" kebawah ( Ab, G, Gb, F dan E ), saxophone, fagot, fluit alto, tenor dan fluit bass.


Untuk mewujudkan tiupan-tiupan diatas adalah, apabila kita meniupkan udara pada satu titik, akan terwujud udara dingin. Apabila kita menghendaki tiupan dengan udara panas, tiupkan udara dengan fokus satu titik yang lebar.


Dalam meniup saxophone tidak hanya membutuhkan udara panas saja, tetapi harus didukung oleh ambosur yang benar serta tenaga yang relatif kuat.


Lebih lanjut Maezawa menjelaskan bahwa ambosur untuk saxophone yang benar adalah:

    (1). Kerutkan kedua bibir (bibir atas dan bawah) hingga membentuk garis-garis pada permukaan bibir dan tariklah kedua sudut bibir ke tengah-tengah hingga bentuk bibir menyerupai huruf "O";

    (2). Masukkan mouthpiece kedalam mulut yang sudah membentuk huruf "O" sesuai kebutuhan kemudian tutuplah bibir disekeliling mouthpiece, sehingga apabila ditiup udara tidak akan bocor;

    (3). Tiuplah mouthpiece tersebut dengan mengucapkan kata "dho" (seperti pada kata "dholan"). Dengan meniup sambil mengucap kata "dho", udara yang keluar adalah udara panas. (gambar 32)

 

Gambar 32: Bentuk bibir


Ambosur untuk saxophone berbeda dengan ambosur untuk klarinet. Untuk membentuk ambosur klarinet, tariklah bibir kesatu titik yang terletak di bawah ujung dagu.

 

Gambar 33: Ambosur Klarinet


Tetapi untuk membentuk ambosur saxophone kita harus menarik bibir kesatu titik yang letaknya di tengah-tengah antara bibir atas dan bibir bawah. ( gambar 34 )

 

Gambar 34: Ambosur Saxophone


Dari ketiga pendapat tersebut di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa ketiga pendapat tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu membuat bibir supaya mengeras dan mewujudkan tiupan dengan udara panas.

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Latihan Pernapasan dalam Meniup Saxophone

 

Latihan Pernapasan dalam Meniup Saxophone


Pernapasan yang dianjurkan, sebagaimana dalam pernapasan menyanyi dan memainkan alat musik tiup lainnya, adalah sistem pernafasan diafragmatis.


Alasan dari pernapasan diafragmatis yang dianjurkan seperti diatas adalah, selain terdapat volume udara yang lebih besar dan kuat dibanding dengan pernapasan paru-paru, juga hal itu sangat menentukan produksi suara serta kemampuan yang lebih sempurna dalam menjangkau teknik maupun etude-etude yang ada.


Di bawah ini adalah cara untuk melatih sistem pernapasan diafragmatis:


1. Hirup udara melalui hidung, bersamaan dengan itu rasakan aliran aliran udara melalui paru-paru menuju sekat rongga perut (diafragma), sekaligus rasakan pengembangan otot-otot disekitar perut (rusuk bawah, terutama pada sekat rongga badan)


2. Hembuskan melalui mulut secara rata, sekaligus merasakan aliran udara dan pengempisan otot-otot pada bagian perut secara perlahan-lahan. Setelah proses pernapasan sudah dipahami, selanjutnya latihan pernapasan dapat dikontrol dengan cara sebagai berikut:


    a. Tekan kuat-kuat kedua telapak tangan pada sisi pinggang dengan ibu jari melingkar di sisi depan perut dan keempat jari lain diletakkan di sisi bagian belakang.

 

Gambar 23: Penekanan pada sisi Perut


    b. Sementara kedua telapak tangan menekan pada sisi pinggang, bongkokkan badan kira-kira membentuk sudut 90°, kemudian tarik napas seperti petunjuk di atas, dan rasakan pengembangan otot-otot di sekitar perut bagian atas. Dengan cara tersebut akan lebih memudahkan dalam mengontrol pengembangan otot-otot perut dalam hu-bungannya dengan pernapasan diafragmatis.

 

Gambar 24: Cara Mengontrol Pernafasan Diafragma.


    c. Setelah melakukan hal tersebut berulangkali dan sudah dipahami, latihan pernapasan dapat dilanjutkan dengan posisi berdiri tegak.

Untuk mengontrol pernapasan diperlukan kecermatan sebsb pernapasan yang salah akan berakibat fatal bagi seorang pemain alat musik tiup. Apabila latihan-latihan di atas sudah dapat dilalui dengan baik dan benar, berikut akan diuraikan tenteng posisi bermain saxophone.

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Latihan meniup saxophone

 

Latihan meniup saxophone.


Nada yang paling mudah untuk dibunyikan pada saxophone adalah nada "B",

 

Gambar 22: Penjarian nada "B1"


Notasi 1: simbul penjariannya nada B


Di bawah ini ditunjukkan contoh latihan meniup saxophone dengan menggunakan nada "b" yang dimainkan dengan tempo lambat.

 

Notasi 2: contoh latihan meniup dangan nada dengan nada "B1".


Kemudian dilanjutkan dengan nada-nada lainnya yang masih menggunakan jari-jari tangan kiri, yakni: Nada A. G dan C.

 

Notasi 3: gambar notasi dan fingering B, A, G dan C.

 

Notasi 4: latihan pembentukan nada dengan nada "B1, A1,G1.

 

Notasi 5: latihan pembentukan nada dengan nada "C1 ".

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Cara Memegang Saxophone

 

Cara Memegang Saxophone


Sebelum mengangkat instrumen dari kopornya, sebaiknya terlebih dahulu menggabungkan mouthpiece dengan reed. Setelah posisi reed terpasang dengan benar, gabungkan dengan leher saxophone (neck dan mouthpiece).

 

Gambar 16: Penggabungan Leher dengan Mouthpiece


Apabila mouthpiece, reed dan leher saxophone sudah tergabung, tali penggantung saxophone yang disebut sling dapat dipakai (dikalungkan pada leher pemain). Fungsi dari pada sling tersebut adalah untuk membantu ibu jari tangan kanan dalam menopang saxophone dengan cara mengaitkan ujung sling pada badan saxophone. Kemudian badan saxophone diangkat dari petinya dengan cara memegang pada bagian bellnya dan gabungkan badan saxophone tersebut dengan lehernya yang sudah terpasang mouthpiece. Sedang cara untuk menggabungkan badan dengan leher saxophone adalah:


Memegang badan saxophone pada tangan kanan dengan bertumpu pada pangkuan, sementara tangan kiri memegang leher yang siap digabungkan dengan badan saxophone.

 

Gambar 17: Penggabungan Leher dengan Badan Saxophone


1. Posisi jari telunjuk, jari tengah dan jari manis tangan kiri maupun kanan disesuaikan tepat pada permukaan katup nada dalam membentuk setengah melingkar.

 

Gambar 18: Posisi Jari-jari pada Katup Nada


Kelebihan dari posisi ini adalah memindahkan dalam memainkan gerakan-gerakan melodi yang cepat dan relaksasi selama bermain. Sedangkan cara yang tidak dianjurkan adalah posisi jari yang menempel lurus pada katup nada. Posisi ini memiliki kelemahan, kurangnya fleksibilitas serta ketegangan-ketegangan pada saraf motorik, sehingga pemain lekas merasa capai.

 

Gambar 19: Posisi Jari yang tidak dianjurkan (jari-jari menempel lurus pada katup-katup nada).


2. Posisi jari kelingking tangan kiri maupun tangan kanan harus dapat bergerak bebas untuk menjangkau kunci-kunci nada, yakni: Jari kelingking tangan kiri harus bebas menjangkau kunci-kunci nada g#, c#, B dan Bb. Sedangkan untuk jari kelingking tangan kanan harus bebas menjangkau kunci nada Eb dan C.
Perlu ditekankan bahwa kedua jari kelingking tidak boleh menegang.

 

Gambar 20: Jari Kelingking Tangan Kiri.


Gambar 21: Jari Kelingking Tangan Kanan.

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Perawatan Saxophone

 

Perawatan Saxophone

 

Mengenai cara perawatan instrumen saxophone yang dianjuran adalah sebagai berikut: Perawatan instrumen secara intensif, selain untuk alasan higienis, hal itu penting untuk menjaga agar instrumen tersebut dalam keadaan siap untuk dimainkan. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam perawatan instrumen tersebut adalah sebagai berikut:


1. Memegang instrumen saxophone hendaknya secara berhati-hati dan menghindari kemungkinan terjadi benturan dengan benda keras lainnya, sebab logamnya sangat tipis dan peka benturan.


2. Setelah selesai menggunakan segera membersihkannya, baik bagian luar maupun bagian dalamnya, bantalan-bantalan (pad) yang basah (akibat pernapasan), harus segera dikeringkan dengan menggunakan kain yang mudah menyerap air, atau dengan kertas yang halus dan lunak (kertas rokok).



Gambar 10: Cara membersihkan Pad.

 

3. Mouthpiece dan reed segera dicuci setelah selesai digunakan


4. Untuk meletakkan saxophone pada saat tidak dimainkan adalah sebagai berikut:
    1. Dengan cara menggunakan tempat duduk khusus (saxophone stand), dengan cara ini instrumen berdiri bertumpu pada bagian bell dari saxophone.

 

Gambar 11: Tempat Saxophone (Saxophone Stand)


    2. Apabila tidak ada tempat duduk khusus kita dapat meletakkan saxophone dengan cara lain, yaitu dengan menidurkan instrumen pada permukaan yang datar dan rata, seperti meja, lantai atau diatas kopor saxophone (chase). Cara meletakkan seperti ini yang harus diperhatikan ialah jangan sampai ada bagian-bagian kunci yang menahan beban cukup berat dari saxophone, sebab bahan dasar instrumen ini terbuat dari logam yang lunak (mudah bengkok). Cara meletakkan saxophone seperti gambar 12 tidak dapat dibenarkan, sebab ada dua kunci terpaksa menahan beban cukup berat dari saxophone (kunci"d" dan "d#"), apabila hal ini berlangsung terus-menerus dapat mengakibatkan pergeseran antara katup dan lubang suara sehingga katup tidak berfungsi dengan baik.

 

Gambar 12: Cara meletakkan Saxophone yang tidak baik


Sedangkan cara meletakkan saxophone supaya aman pada waktu tidak sedang dimainkan adalah seperti contoh dalam gambar 13 dibawah ini, yang mana pada bagian bell sebelah kanan dari saxophone terdapat lempengan plat logam yang berfungsi untuk pengaman katup nada (Bb, B, C, dan C#). Pada bagian inilah kita meletakkan saxophone dengan cara menidurkannya.

 

Gambar 13: Cara meletakkan Saxophone yang baik


    3. Penyimpanan instrumen dalam Kopor/kotak instrumen, sebaiknya diletakkan di tempat yang aman dan kering, serta perubahan suhunya tidak terlalu mencolok. Hal ini bermaksud untuk menjaga pemuaian ataupun penyusutan dari instrumen tersebut.


    4. Perlu diperhatikan cara meletakkan kopor yang berisi saxophone jangan sampai terbalik seperti contoh dalam gambar 14. Dalam gambar tersebut dapat terlihat dengan jelas, sehingga bagian tersebut sangat rawan. Sedangkan cara-cara yang benar seperti contoh dalam gambar 15, disini saxophone bertumpu pada bagian yang bengkok seprti huruf "U", bagian ini dilapisi plat logam sebagai pengaman.

 

Gambar 14: Cara meletakkan peti saxophone tidak benar


Gambar 15: Cara meletakkan peti saxophone benar

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Pengenalan Saxophone

 

Pengenalan Saxophone

Saxophone merupakan instrumen musik jenis aerophone. Artinya instrumen yang memiliki sumber bunyi berdasarkan udara yang bergetar. Instrumen ini tergolong dalam instrumen tiup kayu walaupun bahan dasar instrumen tersebut terbuat dari logam.

 

Gambaran umum saxophone:

Badan dari saxophone dapat terlihat jelas berbentuk kerucut, bahannya terbuat dari metal yang tipis. Untuk mendapatkan nadanadanya, sepanjang tabung dibuat 18– 20 lubang katup atau lubang nada dengan garis tengah yang semakin besar menyesuaikan bentuk tabungnya.

 

Pada bagian yang lebih dekat dengan mouthpiece terdapat dua lubang katup kecil yang gunanya untuk memainkan nada-nada oktaf tinggi.

 

Gambar 1: Dua Lubang Katup Oktaf.

 

Sistem penjarian yang asli menurut Boehm, bahwa semua katup dikendalikan dengan semacam kunci, beberapa terbuka dan sementara lainnya tertutup pada waktu tidak dimainkan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa untuk jenis saxophone seperti huruf "U" supaya lebih mudah untuk dimainkan. Untuk ukuran bariton dan yang lebih besar lagi, badannya diperpendek dengan dua lipatan pada bagian atas.

 

Gambar 2: bentuk saxophone

 

Ada beberapa hal yang perlu dipelajari oleh siswa sebelum belajar memainkan instrumen saxophone. siswa harus benar-benar kenal namanama bagian dari saxophone dan tahu cara menggabungkannya.

 

Saxophone terdiri dari empat bagian yaitu: mouthpiece, neck, body dan Bell. Gambar 3 dibawah ini menunjukkan nama-nama bagian dari saxophone.

 

Gambar 3: Bagian-bagian dari Saxophone.

 

Mouthpiece mendapat perhatian pertama, yang mana bagian ini harus digabungkan lebih dahulu. Mouthpiece dan reed digabungkan dengan sebuah cincin logam yang disebut ligature sebagai pengikatnya.

 

Gambar 4: Penggabungan Mouthpiece dan Reed.

 

Mouthpiece saxophone, aslinya terbuat dari kayu, tetapi sekarang umumnya terbuat dari ebonit dan metal, bahkan ada juga dari kaca atau plastik. Demikian juga dengan mouthpiece klarinet dapat dibuat dari bahan tersebut dengan ukuran yang berbeda. Jika dibanding dengan mouthpiece klarinet, dudukan reed yang disebut table, pada saxophone soprano bentuknya lebih lebar dan pendek.

 

Gambar 5: Perbedaan Mouthpiece Klarinet dan Saxophon.


Ruangan bagian dalam dari mouthpiece disebut tone chamber, sedangkan ujung dari ruangan ini disebut jendela "window". (gambar 6)

 

Gambar 6: Tone Chamber dan Window.


Cara memasang reed pada mouthpice seperti pada gambar 7 tidak dibenarkan, karena posisi ujung reed tidak tepat pada ujung mouthpiece. Hal demikian hanya menyebabkan bunyi yang dihasilkan kurang baik. Sedangkan pemasangan yang baik adalah posisi ujung reed simetris dengan ujung mouthpiece, seperti gambar 8.

 

Gambar 7: Posisi reed tidak baik.

 

Gambar 8: Posisi reed baik.


Berikut dikenalkan perlengkapan sebuah mouthpiece dan cara pemasangannya.

 

Gambar 9: Perlengkapan sebuah Mouthpiece.


Cara pemasangan reed yang lebih aman adalah mengikuti langkah-langkah berikut:

(1). Letakkan reed pada mouthpiece dengan posisi yang benar;

(2). Masukkan mouthpiece yang sudah terpasang reed tersebut ke dalam ligature, dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ujung reed terbentur ligature, karena bagian ujung reed sangat tipis dan mudah sobek:

(3). Setelah , mouthpiece dan ligature terpasang, aturlah posisi reed seperti dalam gambar 8 (posisi ujung reed simetris dengan ujung mouthpiece);

(4). Apabila posisi reed sudah benar, ligature dapat dikencangkan dengan cara memutar baut-baut pengeras supaya posisi reed tidak berubah atau bergeser.

 

 

Saxophone
Dowbload Buku

 

Facebook Comments